Wednesday, December 1, 2010

Oncology posting part 1

Satu benda yang sangat best posting oncology, hati ini benar-benar tersentuh…sewaktu kerja dalam ward onco benda ni tidak la perasan sangat, tetapi apabila sehari setengah kerja kat day care..satu kelainan amat di rasai.. terutama melihat melihat wajah-wajah mereka.. dari semuda 15 tahun ke yang berumur 70an ke atas..mereka adalah insan-insan yang terpilih oleh Allah..biarpun barah-barah dalam tubuh mereka menjalar laju, biarpun mereka harus memeranginya dengan kesakitan rawatan chemo, namun, senyuman tidak pernah lekang pada wajah meraka..saya cukup hairan.


Pada fikiran saya, orang yang mengidap cancer, akan mengalami perasaan sedih, murung,kerana merasakan prognosis untuk penyakit ini, amat sukar untuk pulih sepenuhnya..namun, biarpun begitu, apa yang saya lihat hari ini, berbeza sekali, mereka seakan tidak pernah putus asa meneruskan hidup. Tabah sungguh mereka..Huhu good motivation orang lain juga!

Prevalence cancer yang saya jumpe banyak kat ward adalah:
1. Lung cancer-memang sangat ramai. Tengok record kematian pun, kes ni paling banyak. Dan cancer jenis ni memang poor prognosis
2. Breast cancer- ni pun banyak juga. Patient paling muda yang saya pernah jumpe adalah 33 tahun..kesian dia, habis sume rambut gugur akibat kesan chemo..bila saya Tanya sakit tak chemo, dia kata..” sakit” sambil senyum. “bila ubat chemo masuk rasa seperti terbakar salur darah..” sambil menunjukkan disclouration vein yang dia alami. Tabahnya dia!!
3. Colon cancer- most patient yang ada cancer ni, akan buat stomy (tebuk peruk untuk keluarkan najis)..patient dalam bab bersihkan dan tukar sarung ostomy lagi expert dari nurse or trainee macam saya..yela..diaorng buat sendiri tiap-tiap hari, nak dibanding dengan kita orang yang mungkin jumpe sekali satu semester..hehe
4. Prostate cancer- yang ni saya tak jumpe kat ward. Kalo ada pon, saya tak jaga patient ni..tak berpeluang…so, tak tahu sangat real situation yang patient type ni alami.
5. Cervix cancer-yang type ni ada la juga. Patient akan buat biasanya brachytherapy..iaitu masukkan radioactive dalam servix untuk buat radiation dalaman. Saya sempat jaga patient type ni skejap masa dekat radio unit.
6. Osteosarcoma- 2 patient saya jumpe sepanjang posting. Dan dua-dua adalah remaja dibawah 18 tahun. Seorang 15 tahun, seorang lagi 17 tahun. Kesian sgt, dua-dua patient saya jumpe ni adalah melayu islam, dan dua-dua ni mengalami rambut gugur yang membuatkan mereka menjadi botak. Yang sedihnya adik yang umur 17 tahun tu, sepatutnya ambil SPM tahun ni..tetapi bila ditanya..”terpaksa tunda la..tadi tepon cikgu dia..kena tunda,dah keadaan dia macam ni..” cerita maknya..
7. Pancreas cancer- yang ni pun poor prognosis mcm lung cancer.. seorang patient saya jumped ah jadi ascites dah(perut jadi buncit dipenuhi cecair ) ..

Satu hal lain, kos perawatan cancer sangat tinggi. Satu rawatan boleh mencecah ribuan kerana ubatnya sangat mahal. Belum termasuk kos-kos sampinagn seperti transportation. Patient yang datang buat perawatan ni bukan hanya di sekitar KL sahaja malah datang dari pelbagai ceruk Malaysia. Kerana unit oncology hanya ada di hospital yang terpilih sahaja macam HUKM ni..



“uncle kenapa manyak lambat ini hari”
“woo bus tu.. manyak lambat la..”
“uncle datang dengan sapa”
“datang solang la..”
“uncle naik bus kol bp”
“itu 6.30 dari ipoh..”

Tabah tak uncle ni..? (sy angguk-angguk mcm spring- tabah dan gigih sgt!)

"Mencari Redha Allah"

Sunday, November 28, 2010

Siapa Muslimah Pengganti Florence Nightingale dan Mother Theresa?

Saya sudah baca bukunya, akh menurut saya kisah Florence Nightingale yang terkenal sebagai perawat di zaman Revolusi Perancis biasa-biasa saja.

Namun, kalau dilihat bagaimana pengorbanannya yang bertahun-tahun merawat korban perang sebagai perawat dirumah sakit, memang membuat dirinya wajar dipanggil tokoh kemanusiaan. Apalagi bila kita melihat sulitnya menemukan perawat yang berdedikasi dan mau menolong serta merawat orang yang terluka dizaman sekarang ini.

Wajah judes dan lelah seringkali malah ternampak dari para perawat kita yang berlalu hilir mudik. Namun tidak menoleh sedikitpun kepada para pasien lumpuh, renta, kotor dan luka parah dimana-mana yang dengan wajah meringis menahan sakit dan dzikir serta tangisan berkepanjangan dari sanak keluarganya, yang memohon-mohon belas kasihan sang suster untuk mendahulukan pertolongan bagi pasien.

Mungkin hati mereka sudah kebal melihat orang sakit di Indonesia ini setiap hari dengan jumlah yang beragam dan isak tangis yang bunyinya serupa. Dengan anggun seakan-akan penguasa ketiga rumah sakit, sang suster seringkali menyarankan sanak keluarga pasien untuk melengkapi administrasi telebih dahulu.

Bila kita melihat name tag nama si suster, nama yang Islami dan indah terlihat di baju seragamnya seperti Aminah, Solichah, Jamila, walaupun sebagian ada juga yang bernama Wati, Dewi atau Santi, namun sebagian besar suster itu pastilah beragama muslim, dengan prilaku yang serigkali terlihat tidak Islami.

Wajarlah bila Florence Nightingale yang beragama Kristian menjadi simbol kebaikan perawat-perawat Kristian terhadap korban perang yang terluka. Sebagian besar pria yang terkena luka parah dan memerlukan perawatan siang malam ditengah kesakitan yang sangat, membuat Florence Nightingale begitu dikenal sebagai sosok kemanusiaan dalam segi keperawatan.

Perawat yang bekerja keras menolong sesama manusia tanpa pamrih, itulah sosok wanita Kristian yang namanya dikenal sampai berpuluh-puluh tahun kemudian.

Selain itu ditambah lagi tokoh renta berwajah tirus dan digambarkan walau jalannya membungkuk namun kain kerudung separuh yang menutupi kepalanya membuat Bunda Theresia, lagi-lagi tokoh wanita Khatolik (non muslim lagi) menjadi sosok idola dan tokoh cinta kasih yang menolong sesama manusia susah. Dengan pengabdiannya yang begitu luar biasa, bahkan sampai ajalnya tiba, dikabarkan dia masih memberikan pelayanaan kepada sesama manusia, baik yang dikenal maupun tidak.

Hmm, mungkin sebagian kita akan berdalih dengan mengatakan, akhhh.. itu sih karena media massa yang menyebarkan dan membuat image agar tokoh wanita Kristian dan Katolik begitu nampak hebat, dan media sekarang kan memang dikuasai oleh Yahudi dan Nasrani. Dengan bantuan ayat,

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS. Al Baqarah [2] : 120]

semakin membuat pemikiran kita bahwa kehebatan tokoh wanita Kristian dan katolik itu memang rekayasa Yahudi dan Nasrani.

Namun ingat lho, tak akan kebakaran kalau tak ada api yang membakar, dan ada api pun tak akan mudah membakar bila tak ada sebab dan usaha dari si pembakar (baik sengaja maupun tidak).

Maka alangkah naifnya kita bila hanya menuduh media terlalu membesarkan tanpa kita sebagai muslimah terus berusaha untuk menggantikan tokoh wanita-wanita Kristian tersebut untuk menjadi muslimah yang mampu memberi inspirasi dan dikenal umat.

Dengan tugas dan kerjanya anda para muslimah ditempat kerja masing-masing baik sebagai perawat, dokter, guru, jadilah tokoh-tokoh yang berjuang tanpa pamrih sehingga suatu saat akan timbul nama-nama kita yeng akan menggantikan nama Florence Nightingale dan Mother theresa dalam benak generasi kita yang akan datang.

Dan bangkitlah media dan wartawan muslim untuk menceritakan dengan gegap gempita perjuangan para suster muslimah yang melayani orang sakit tanpa melewati administrasi yang rumit, juga para guru muslimah yang menggoalkan UN dengan nilai tinggi bagi para anak didiknya tanpa uang tambahan, serta pendidik anak-anak jalanan dan kerja-kerja kemasrakatan lain yang membanggakan para muslimah kita.

Cukuplah kisah Florence Nightingale dan Mother theresa menjadi kisah masa lampau, yang akan digantikan kisahnya oleh kisah para muslimah di abad milenium. Bangkitlah Muslimah.. harapan itu masih ada.. berjuanglah, muslimah, tinggikan nama Islam yang jaya.

copy paste dari: eramuslim.com

"Mencari Redha Allah.."

Wednesday, November 24, 2010

Moga diri tetap menjadi yang terpilih..

Siapa pun kita kini, dari mana pun kita,apa pun nama kita, apa pun status kita kini..tetap, kita tidak pasti bagaimana pengakhiran kehidupan kita didunia..kerana yang tetap akan menentukan pengakhirannya adalah Dia yang Maha Esa.. semoga setiap kali doa-doa yang kita mohon pada Nya untuk "husnul khatimah" diakhir hayat kita diperkenanNya..

secoret cerita sebagai peringatan buat jiwa kita..

TAUBAT SANG ROCKER

“Cinta yang tulus di dalam hatiku,
Telah bersemi karena-Mu
Hati yang suram
kini tiada lagi
Tlah bersinar karena-Mu
Semua yang ada pada-Mu
Membuat diriku
tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu
Hanyalah untuk-Mu
Seluruh hidup
dan cintaku…”

Masih terngiang lirik lagu Cinta Yang Tulus yang dinyanyikan Bangun Sugito alias Gito Rollies, yang popular di tahun 80an. Lagu yang pernah dipopularkan The Rollies itu memang liriknya terkesan religius. Namun kesan itu menjadi paradoks ketika tahu sisi gelap dari kehidupan si pelantun tembang tersebut. Penampilan Gito kala itu urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel menghiasi kejayaan The Rollies Band di era 1980-an. Bahkan lagu-lagu cadas meluncur dari suara seraknya. Segudang kedugalannya kerap dikupas dan menjadi langganan infotainment.

Sudah menjadi rahasia umum bila dunia selebritis di mana pun berada selalu dekat dan akrab dengan dunia gemerlap (dugem) yang kerap diselingi berbagai macam kesenangan sesaat seperti narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Tak terkecuali pria kelahiran Biak, 1 November 1947 ini.

“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.

Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.

Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.

Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.

Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang ramai menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.

“Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.

Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.

Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.

“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”

“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.

“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urakan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”

Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.

“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.

Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.

“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.

“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”

Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya buatku.”

“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”

Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.

“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.

Artis kelahiran Biak, Papua, 1 November 1947 dengan nama bangun Sugito ini awalnya dikenal sebagai rocker. Dalam perjalanan karirnya, ia juga dikenal sebagai aktor dan terakhir dalam kondisi sakit ia menjadi penceramah agama.

Nama Gito terlihat diambil dari nama aslinya, sementara nama Rollies diambil dari nama grup band asal Bandung, The Rollies yang pernah terkenal pada dekade 1960-an hingga 1980-an. Grup ini terdiri dari vokalis Gito, Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, Teungku Zulian Iskandar.

Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).

Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.

Kang Gito, begitu sapaan akrabnya, memang bukan lagi Gito Rollies yang lama. Sejak 10 tahun belakangan, hidupnya berubah 180 derajat. Kini, ia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mantan personel band The Rollies ini tak segan-segan menyerukan semua orang untuk meninggalkan kehidupan yang dipenuhi alkohol dan obat-obatan terlarang.

“Dalam hidup ini -apa pun agamanya- adalah paling baik mengikuti ajaran agama.
Karena inilah yang akan membentengi kita -terutama anak-anak- dalam menjalani cobaan hidup,” lanjut ayah tiga anak dari perkawinan dengan Michelle: Puja, Bayu dan Bintang.

Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.

Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya saat ini.

“Tak hanya berkurang, namun dosa Kang Gito bahkan sudah dianggap lunas. Kang Gito jangan berpikir perbuatan baik saat ini untuk bayar dosa yang lalu. Sekarang Kang Gito tengah menabung untuk masa depan,” jawab sang ustadz, yang disambut Gito dengan wajah sumringah.

Sejak 1990-an nama Gito hilang dari peredaran setelah dia menarik diri dari dunia panggung musik rock maupun film. Khalayak pun tidak lagi menyaksikan aksi-aksi penyanyi bersuara serak dengan gaya panggungnya yang atraktif. Beberapa tahun kemudian Gito muncul menjadi seorang dai, yang kerap tampil dengan pakaian putih-putih.

Sejak 2005 Gito harus terbaring lemah. Ia tak berdaya melawan kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Namun kemudian ia justru terlihat banyak melakukan kegiatan dakwah. Bahkan sebelum meninggal Gito masih sempat berdakwah di Padang, Sumatera Barat selama 11 hari.

Tahun-tahun belakangan memang terasa berat buat Michelle Sugito wanita asal Kanada yang telah mendampingi hidupnya selama ini. Ia harus mendampingi suaminya menjalani terapi pengobatan kanker kelanjar getah bening yang dirasakan penyanyi rock ini, dua tahun terakhir.

Sosok Bangun Sugito yang atletis dan enerjik di panggung sudah menjadi bagian masa lalu. Untuk berjalan pun kini ia harus dibantu atau minimal menggunakan tongkat. Kadang ia memang menolak untuk dibantu. “Maunya sih tidak dibantu. Tetapi karena aku selalu bicara bahwa manusia harus saling membantu, ya aku juga harus mau dibantu orang lain,” kata Gito.

Karena itulah ia juga tidak menolak ketika diminta ikut dalam acara penggalangan dana buat korban gempa bumi Yogyakarta yang digagas orang tua murid tempat isterinya bertugas. Gito menganggap saat ini sudah saatnya ia bernyanyi untuk berdakwah, sesuatu yang ia harapkan ada manfaatnya buat para pendengarnya.
Sebab itu pulalah ia lebih memilih menyanyikan lagu-lagu bernuansa religius ketimbang lagu-lagu nunasa masa lalu seperti,“Astuti…Tuti..Tuti…”

Bersamaan dengan sumbangan yang mengalir dari undangan, air mata Michelle Sugito makin deras mengalir.

Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Kehidupannya tersimpul dalam satu kalimat ‘Mantan lalim, yang jadi orang alim’. Masa mudanya memang sangat dekat dengan miras, narkoba dan hura-hura. Selama kurang lebih 23 tahun tidak menyurutkan niat rocker gaek bernama lengkap Bangun Sugito ini untuk tobat dan mendalami agama.

Dialah satu-satunya Rocker yang meninggal dengan tenang, indah dan tersenyum. Happy Ending. Seandainya Sid Vicious meninggal dengan tenang di St Paul’s Cathedral, Kurt Cobain dan Jimmy Hendrix meninggal mesra di St James Cathedral maka sepertinya tidak akan ada stigma: Rocker mati konyol dengan mulut berbusa atau berlumuran darah karena bertingkah bodoh akibat pengaruh narkoba. Dan mitos “Rocker Legend mati muda” pun sudah mulai usang karena Legend kita yang satu ini tutup usia di umur 61 tahun.

Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.
Ila Robbika Muntahaha. Innama Anta Mundziru Man Yaghsyaha

dicopy and paste dari: http://ayo-tarbiyah.blogspot.com

"Mencari redha Allah.."